Rabu, 02 Juli 2014

Sistem Jaringan Informasi


Kerjasama Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Perguruan Tinggi: studi Sumber Daya Manusia
Puti Asmarani, Ahmad Fauzi
Fakultas Adab dan Humaniora, Ilmu Perpustakaan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Abstrak- Penelitian ini membahas tentang kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan studi sumber daya manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan dalam upaya membentuk dan mewujudkan kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan terhadap sumber daya manusia untuk menjalin komunikas yang baik dan di dalam kerjasama ini sumber daya manusia pun harus mendukung dan memiliki kemauan serta keahlian di bidang teknologi informasi untuk meningkatkan sumber informasi di perpustakaan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerjasama jaringan informasi antar perpustakan melalui sumber daya manusia itu sangat diperlukan dengan terjalinnya komunikasi yang baik bisa membantu percepatan kerjasama karena kebutuhan akan informasi zaman sekarang sangat diperlukan dengan cepat dan up to date. Dalam menjalin kerjasama ini diperlukan syarat seperti memiliki kesepakatan tentang bentuk jaringan dan mekanisme dalam pelaksanaan kerjasama, memiliki kemauan untuk membagi sumber informasi yang dimiliki kepada perpustakaan yang menjalin kerjasama, dan perpustakaan sebagai anggota jaringan harus memilki sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan yang menjalin kerjasama. Kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan ini penting agar informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan bersama secara maksimal bagi para pemakai dan sumber daya manusianya berperan penting untuk memberikan informasi bagi para pemakai.
Kata kunci- kerjasama perpustakaan , jaringan informasi, sumber daya manusia

1.     Pendahuluan
          Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju ilmu pengetahuan dan sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan. Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Perpustakaan adalah sebuah ruangan, sebuah gedung atau bagian dari gedung yang digunakan untuk menyimpan buku, serta terbitan dan bahan pustaka lainnya menurut tata susunan tertentu untuk kepentingan pembaca dan bukan untuk diperjualbelikan.[1]
          Perkembangan teknologi informasi dewasa ini berimbas pada pertumbuhan sumber daya informasi dan fasilitas layanan perpustakaan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, perpustakaan sangat memungkinkan membentuk suatu pusat kekuatan pengetahuan. Kenyataan di Indonesia, tidak semua perpustakaan mampu menghadirkan teknologi dan seluruh informasi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan memilki keterbatasan sumber daya informasi, dana, gedung serta sumber daya manusia. Dengan adanya kerjasama antar jaringan perpustakaan, diharapkan keterbatasan tersebut dapat diatasi. Sehingga setiap perpustakaan dapat mengakses lebih luas sumber daya informasi sesuai dengan kebutuhan pemustaka.
          Agar kerjasama tersebut dapat meraih hasil yang optimal, maka komponen pokok/utama yang ada di perpustakaan harus terus dikembangkan. Seperti, tersediaanya sumber daya manusia (pustakawan dan Tenaga Administrasi) yang handal, koleksi yang memadai, sistem layanan perpustakaan yang memenuhi standar. Pertama adalah sumber daya manusia yang mengelola perpustakaan. Komponen ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam proses pengembangan diri perpustakaan. Keluwesan pustakawan dalam menanggapi dinamika perubahan jaman mutlak diperlukan jika perpustakaan ingin maju. Sekarang ini jalan yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi masalah SDM dalam dunia perpustakaan adalah menetapkan ketentuan calon pustakawan harus berpendidikan minimal D-3 perpustakaan. Tapi walaupun  begitu ternyata perpustakaan belum dapat berkembang secara optimal. Rupanya dengan  hanya berpendidikan D3 perpustakaan saja belum cukup. 
          Hal yang terpenting dalam pengadaan SDM adalah pustakawan yang berdedikasi tinggi  pada tugas dan mempunyai kemampuan plus. Mereka tidak hanya bermodalkan tanda  lulus dari D3 perpustakaan tapi juga harus bisa menguasai ketrampilan lain yang ada hubungannya dengan pengolahan perpustakaan seperti komputer. Di jaman yang serba canggih ini komputer tak bisa ditinggalkan begitu saja, karena komputerlah yang menguasai semua jaringan informasi global.  Padahal kita tahu bahwa perpustakaan adalah pusat dan penyebar informasi. Alangkah menyedihkan jika perpustakaan yang merupakan gudang ilmu dan informasi tidak bisa melakukan tugasnya memberikan informasi pada masyarakat,

hanya karena SDM-nya yang tak mempunyai kemampuan untuk melayaninya. Rupanya alasan itulah yang membuat masyarakat beropini kurang baik terhadap perpustakaan dan memandang sebelah mata pada perpustakaan. Dan kerjasama dan jaringan informasi perpustakaan befungsi memberikan akses yang lebih luas terhadap koleksi, memperbaiki pelayanan pengguna dan teknis, meningkatkan aktivitas dalam berbagai sumber daya, mengurangi duplikasi, dan menciptakan pelayanan yang efisien. Dalam masyarakat informasi, membangun jaringan informasi yang dapat diakses oleh setiap pemustaka adalah penting untuk menggerakkan energy dalam mencapai keberhasilan. Jadi peran SDM di perpustakaan itu amatlah sangat penting makanya diperlukan adanya kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan.


2.     Tinjauan Literatur
A.      Kerjasama Perpustakaan
                Kerjasama adalah suatu perbuatan nbantu-membantu atau yang dilakukan bersama. [2] berdasarkan pengertian ini maka kerjasama perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan beberapa perpustakaan secara bersama-sama melaksanakan suatu usaha mencapai tujuan yang sama dan atau saling bantu membantu dalam melaksanakan tugasnya. Pengertian mengarahkan bahwa setiap perpustakaan yang bekerjasama berkewajiban memberikan sesuatu kepada perpustakaan lain. Walaupun demikian, “sesuatu” yang diberikan dan yang diminta untuk diberikan kepada perpustakaan lain akan terbatas pada kemampuan dan peraturan yang berlaku di setiap perpustakaan yang bekerjasama. Hal ini yang menyebabkan bahwa pada umumnya dalam kerjasama perpustakaan “Sesuatu yang saling diberikan adalah jasa”.  Kerjasama perpustakaan pada umumnya didasarkan pasda kegiatan secara sukarela dari perpustakaan yang bekerjasama. Ikatan yang kuat antara perpustakaan dalam kerjasama perpustakaan tergantung dari besarnya keuntungan yang didapat oleh perpustakaan anggota kerjasama.
                Kerjasama perpustakaan dilakukan berdasarkan konsep bahwa kekuatan dan efektivitas kelompok perpustakaan akan lebih besar dibandingkan dengan kekuatan dan efektivitas perpustakaan masing-masing. Prinsip ini dikenal dengan sinergi artinya gabungan beberapa kekuatan akan lebih besar daripada kekuatan masing-masing. Suatu kerjasama dan sistem jaringan dapat didefinisikan sebagai: “Sejumlah organisasi yang secara formal saling terhubung atau berpartisipasi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan memiliki suatu struktur organisasi.” Kerjasama dan sistem jaringan tersebut dapat bersifat fungsional (misalnya pengatalogan), geografis (misalnya provinsi) dan/atau sektoral (misalnya perpustakaan umum).[3]
                Pada dasarnya tidak ada satupun perpustakaan, betapapun besarnya perpustakaan tersebut, yang mampu mengumpulkan semua informasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia, bahkan untuk disiplin ilmu yang paling spesifik sekalipun. Menyadari hal tersebut maka setiap perpustakaan atau pusat-pusat informasi selalu berusaha untuk menjalin kerjasama dengan perpustakaan atau pusat-pusat informasi lain yang ada.
                Dari  konsep   diatas  dapat  diperoleh   beberapa   prinsip  pokok  untuk  kerjasama  antar jaringan perpustakaan sebagai berikut:
1.       Adanya   persyaratan   kerjasama   yang   baik  antara   anggota  jaringan  atas   dasar  saling membutuhkan  sehingga  mendorong  timbulnya  kesadaran  untuk saling  membantu  atau menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi keperluaan anggota jaringan.
2.       Kerjasama   dilakukan   umumnya   didasari   oleh   adanya   kesamaan,  misalnya   kesamaan kegiatan, subyek informasi, pengguna, wilayah dan sebagainya
3.       Kerjasama lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan akses terhadap kualitas sumber daya informasi bukan pada kuantitas sumber daya informasi
4.       Kerjasama  tidak terbatas  pada  pemanfaatan  sumber  informasi melainkan  pemanfaatan keahlian tenaga, peralatan yang dimiliki, teknologi dan hal lain yeng dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.[4]
B.      Jaringan Informasi Perpustakaan
                Jaringan adalah suatu sistem yang menggabungkan secara fisik komputer-komputer dengan sambungan telekomunikasi, menyediakan sumber informasi yang dimiliki oleh masing-masing peserta secara mekanis untuk pemakaian bersama.[5] Informasi adalah Segala sesuatu yang menghilangkan ketidakpastian, data yang tersusun rapi serta bermakna, data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang dapat difahami atau bermakna. Jadi, jaringan informasi adalah suatu sistem terpadu dari badan-badan yang bergerak dalam bidang pengolahan informasi. Jaringan informasi penekanannya pada pengolahan informasi berbasis komputer, data yang diberikan juga tidak selalu berupa data bibliografi, lebih banyak data numerik maupun tekstual, jaringan komputer juga dikatakan suatu jaringan informasi, perbedaan lain juga terletak pada kegiatan ahli informasinya yang harus dekat dengan bidang keahlian penggunanya.
                Kegiatannya tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga harus menganalisis umpan balik dari penggunanya dan aktif mencari sumber informasi lainnya. Pada dasarnya jaringan informasi adalah suatu jaringan dari unit-unit informasi perpustakaan bersama-sama terkordinasi untuk meningkatkan kegiatan msing-masing unit dalam memberikan jasa informasi kepada kelompok pengguna dalam bidang spesialisasi tertentu sehingga pengguna dalam bidang spesialisasi tersebut bisa mendapatkan informasi yang sesuai dengan keperluannya. Kegiatan jaringan informasi tidak saja menyampaikan informasi tetapi juga menganalisa umpan balik dari pengguna informasi dan secara akurat mencari sumber-sumber informasi lain disamping koleksi bahan pustaka untuk kepentingan penggunanya.
                Jaringan informasi berorientasi pada suatu tugas/misi, misalnya kesehatan, pertahanan, dll dan pada suatu bidang khusus, misalnya jaringan informasi ilmu eksakta. Serta kegiatan jaringan informasi itu berupa melakukan analisis informasi yang diperlukan penggunanya, melakukan analisis bahan informasi, mengusahakan adanya bahan informasi, melakukan usaha pembinaan tenaga, sarana dan dana, menyesuaikan pedoman berkaitan dengan informasi, melaksanakan kegiatan bersama  berkaitan dengan informasi dan keahlian jaringan, melaksanakan kegiatan bersama pemberian jasa informasi dan menerbitkan terbitan sekunder. Jadi jaringan informasi ini lebih menekankan pada informasi dengan pengertian informasi yang tidak identik dengan perpustakaan. Cakupan jaringan informasi lebih luas dari pada jaringan perpustakaan. Tapi disini saya lebih menekankan jaringan informasi di perpustakaan. Dan untuk mendirikan jaringan informasi perpustakaan itu lebih ke yang bekerjasama memiliki sesuatu yang dapat dimanfaatkan perpustakaan lain, masing-masing perpustakaan yang bekerjasama memiliki kemauan untuk pemakaian bersama (sharing) koleksi yang dimilikinya kepada perpustakaan lain, dan perpustakaan yang bekerjasama memiliki kesepakatan tentang bentuk jaringan dan mekanisme dalam pelaksanaan kerjasama.
C.      Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang digunakan untuk menggerakkan dan menyinergikan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa sumber daya manusia, sumber daya yang lainnya menganggur dan kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan organisasi.[6]
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan atau kegagalan organisasi dalam mencapai tujuan, baik pada organisasi publik maupun private.[7] Jadi dapat disimpulkan sumber daya manusia dalam sebuah perpustakaan itu merupakan salah satu faktor yang sangat strategis dan sangat penting untuk mengembangkan dan mencapai visi dan misi sebuah perpustakaan yang telah mendukung dari sumber daya manusianya.
D.      Bentuk kerjasama perpustakaan
                        Bentuk kerjasama antar jaringan perpustakaan yang dapat dilakukan antara lain:
1.       Bidang Pengadaan, mencakup kegiatan:
a)                 Tukar menukar sumber daya informasi
b)                  Pengadaan terkoordinasi
c)                 Tukar menukar dan hadiah
2.       Bidang Pengolahan, mencakup kegiatan:
a)       Penyusunan dan penerbitan Current content
b)        Penyusunan dan penerbitan Katalog Induk
c)        Pertukaran pangkalan data
3.       Bidang Layanan
a)       Jasa penelusuran artikel ilmiah (baik tercetak maupun elektronik)
b)       Jasa layanan fotokopi
c)       Jasa layanan pinjam antar perpustakaan  (inter library loan)  Saat ini berkembang konsep digital inter library loan
d)       Program pendidikan pemakai (user education program)
4.       Bidang Manajemen Jaringan
a)       Pertukaran software automasi perpustakaan
b)       Evaluasi dan perencanaan
c)       Pelatihan staf
d)       Pelaporan dan statistik kegiatan [8]



3.     Metode Penelitian
Pada artikel ini, penulis akan menjelaskan penelitian berdasarkan metode pustaka. Jadi penulis menjelaskan isi artikel ini dengan berbagai macam jenis pustaka, baik itu dari buku maupun jurnal. Jumlah koleksi pustaka yang menjadi referensi sebanyak dua puluh (20) judul, masing-masing sepuluh (10) judul untuk buku dan jurnal ilmiah. Adapun judul dari koleksi pustaka tersebut akan dijabarkan pada bagian referensi di artikel ini.


4.     Diskusi
A.      Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi yang berperan memajukan pembangunan bangsa memerlukan sebuah sarana pusat informasi dan dokumentasi sebagai sumber belajar yang dikelola secara baik, mudah, cepat dan tepat. Perpustakaan merupakan salah satu sarana pusat informasi yang harus ada di setiap perguruan tinggi. Keberadaan perpustakaan sebagai salah satu pusat sumber belajar pada perguruan tinggi telah diatur pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Di dalam pelaksanaan manajemen organisasinya, perpustakaan juga harus dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dibidangnya, agar segala bentuk informasi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efesien oleh pengguna perpustakaan. Sumber daya manusia atau tenaga kerja perpustakaan yang memiliki kompetensi memungkinkan setiap jenis pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik, tepat waktu, tepat sasaran, dan sebanding antara biaya dan hasil yang diperoleh. Jika sumber daya manusia yang bekerja pada perpustakaan tidak memiliki kualitas yang baik mustahil untuk  perpustakaan dalam mencapai visi dan misinya sebagai unsur penunjang perguruan tinggi dalam mewujudkan berbagai fungsinya. Seperti fungsi edukasi (sumber belajar para civitas akademika), fungsi informasi, riset, rekreasi dan deposit. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kepuasan pengguna perpustakaan untuk datang berkunjung ke perpustakaan adalah aspek kualitas informasi yang ada diperpustakaan yang sumber daya manusianya mengetahui semua informasi yang terdapat di perpustakaan serta sumber daya manusia yang komunikatif ketika dalam melakukan kerjasama terhadap perpustakaan lain. Sumber daya manusia yang aktif, efektif, komunikatif dan berilmu pengatahuan tentang informasi akan mempermudah dalam menjalin kerjasama suatu perpustakaan.  Dalam meningkatkan kerjasama jaringan informasi perpustakan  merupakan suatu hal yang perlu di perhatikan oleh pihak perpustakaan, dengan mutu sumber daya manusia yang tinggi, perpustakaan tersebut akan memperoleh banyak pengunjung dan selanjutnya akan mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari masyarakat. Jika pustakawan belum mendapatkan penghargaan dari masyarakat, bearti ia masih harus bekerja keras, agar pekerjaannya itu berguna bagi masyarakat. Upaya untuk meningkatkan kerjasama jaringan informasi di perpustakaan tidak boleh di pisahkan dari kegiatan pustakawan sehari-hari.
B.      Jaringan Informasi Perpustakaan Perguruan Tinggi
                Penggunaan teknologi informasi memilki peran penting dalam pembentukan kerjasama dan sistem jaringan perpustakaan. Teknologi informasi yang meliputi teknologi komputer dan komunikasi telah memperluas peran perpustakaan dalam menjalin hubungan dengan berbagai institusi, mengubah konsep perpustakaan tradisional dari kepemilikan koleksi ke akses dan penyediaan berbagai jenis pelayanan baru atau informasi baru yang terdapat di perpustakaan. Struktur jaringan informasi yang terdapat di perpustakaan digunakan untuk mengkoordinasi antar aktivitas perpustakaan sumber daya manusia dan antar perpustakaan sumber daya manusia dengan koordinator. Perpustakaan perguruan tinggi ini harus memiliki prosedur dan proses yang mengatur aktivitas mereka, membatasi aktivitas yang tidak diinginkan, harus jelas siapa yang bertanggung jawab secara hukum dan financial atas produk kerjasama, dilihat dari pemusatan wewenang pengaturan struktur jaringan terdiri dari:
1.       Jaringan terpusat total
2.       Jaringan desentralisasi total
3.       Jaringan terpusat terbagi
4.       Jaringan hirarki
                Dalam kerjasama perpustakaan terdapat perpustakaan yang bertindak sebagai koordinator dan beberapa perpustakaan sebagai anggota, pada sistem jaringan informasi juga diperlukan unit informasi sebagai pusat jaringan dan beberapa unit sebagai anggota. Jaringan informasi perpustakaan perguruan tinggi melaksankan kegiatan-kegiatan, sebagai berikut:
1.       Melaksankan analisis terhadap informasi yang diperlukan penggunanya, dengan memperhatikan keadaan sekarang dan perkembangan yang akan datang, kualifikasi dan spesialisasinya.
2.       Melaksanakan analisis tentang bahan informasi yang tersedia baik di perpustakaan maupun sumber-sumber informasi lainnya.
3.       Mengusahakan adanya bahan informasi yang diperlukan dan di perkirakan akan diperlukan oleh penggunanya, tetapi tidak tersedia di perpustakaan atau unit informasinya.
4.       Melaksanakan usaha bersama untuk pembinaan tenaga, sarana dan upaya peningkatan dana untuk masing-masing anggota jaringan,
5.       Menyesuaikan pedoman-pedoman teknik pengumpulan, pengolahan, dan penyampaian informasi.
6.       Melaksanakan kegiatan bersama dalam menghimpun, memupuk, menyimpan, meningkatkan serta menyebarluaskan koleksi informasi yang berkaitan dengan  bidang spesialisasi jaringan.
7.       Melaksanakan kegiatan bersama dalam memberikan jasa informasi, jasa rujukan dan jasa konsultasi untuk pengguna informasi.
8.       Menerbitkan publikasi sekunder seperti abstrak, bibliografi. Indeks, dan sebagainya.

C.      Sumber Daya Manusia Perpustakaan Perguruan Tinggi
                Dengan adanya kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan yang lebih ditekankan ke sumber daya manusia ini karena beberapa alsan seperti pertumbuhan publikasi tercetak dan elektronik, pertumbuhan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tuntutan pengguna perpustakaan, dan penghematan waktu. Dengan memilki sumber daya manusia yang selalu up to date dengan informasi yang semakin bekembang ini dapat membantu mempermudah menjalin kerjasama antar perpustakaan. Tidak hanya up to date tentang informasi yang berkembang tapi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk kegiatan rutin perpustakaan dan informasi, memiliki pengetahuan tentang subyek perpustakaan yang bisa di dapat melalui pendidikan nonformal dan informal, memiliki pengetahuan tentag manajemen perpustakaan dan informasi.
5.     Kesimpulan  
          Kerjasama jaringan antar perpustakaan ini sangat penting bagi para pemustaka yang mencari kebutuhan informasi, maka dari itu diadakannya sumber daya manusia yang berilmu pengetahuandan mengerti akan informasi yang ada di perpustakaan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini sangat membantu percepatan kerjasama jaringan antar perpustakaan, dengan syarat tersedianya sumber daya informasi dan sumber daya manusia yang handal. Kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan ini penting agar informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan bersama secara maksimal bagi para pemakai dan sumber daya manusianya berperan penting untuk memberikan informasi bagi para pemakai. Jadi kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan ini memberikan dampak yang lebih kuat terhadap pembangunan perpustakaan perguruan tinggi,  dengan dampak ini maka perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap perpustakaan dan jaringan informs akan menjadi lebih besar. Perhatian yang besar akan mempermudah usaha peningkatan mutu sumber daya manusia sehingga perkembangan perpustakaan dan kerjasama perpustakan serta jasa informasi dan jaringan informasi dapat maju dengan pesat.

Referensi
[1] Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakan (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993)
[2] WJS Poerwadarminta 1976 kamus besar bahasa indonesia PN Balai Pustaka
[3] A. Ridwan Siregar: Kerjasama dan Sistem Jaringan Perpustakaan Umum, Sumatera Utara, Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No. 2, Desember 2005
Arif Surachman Perpustakaan Perguruan Tinggi menghadapi Perubahan Paradigma Informasi. Arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/pedoc.masdepr. Di akses tanggal 26 juni 2014
Gomes, F.C. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Andi.
[4] Thamrin hasan. Kerjasama antar jaringan perpustakaan. Pdf artikel. Diakses 26 juni 2014

[5] Harrod’s lirarian’s glossary and reference book, 1987

Hasugian, J. (2003), “Penerapan teknologi informasi pada sistem kerumahtanggaan perpustakaan perguruan tinggi”, available at: http://library.usu.ac.id/download/lib/perpus-jonner2.pdf. Di akses tanggal 25 juni 2014
Kamil, H. (2005), “Peran pustakawan dalam manajemen pengetahuan”, Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 1 No. 1, pp. 19-22.
[6] Wirawan, Evalusi Kinerja Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Salemba Empat, 2009)

[7]Sudarmanto, Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM: Teori, Dimensi Pengukuran, dan Implementasi dalam Organisasi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)

[8] Prabowo tjitropranoto. Kerjasama perpustakaan dan jaringan informasi. Pdf artikel. Diakses tanggal 26 juni 2014

Sulistyo-Basuki. Artikel “Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kerjasama Perpustakaan” pada https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/04/14/penerapan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-kerjasama-perpustakaan/#more-191 Diakses tanggal 26 Juni 2014



Standar Nasional Indonesia (2009), “Perpustakaan perguruan tinggi: SNI 7330:2009”, available at: http://elib.unikom.ac.id/download.php?id¼32710. Di akses tanggal 28 juni 2014
Sulistiyo-Basuki. 2002. Information networks and library co-operation in Indonesia, url http://eprints.rclis.org/archive/00001661/. Di akses tanggal 29 juni 2014
Subrata. 2009. “Upaya pengembangan kinerja pustakawan perguruan tinggi di era globalisasinformasi”,                                      available at:http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/kargtoUpaya%20Pengembangan%20Kinerja%20Pustakawan.pdf. Di akses tanggal 28 juni 2014.
Teguh Yudi Cahyono. Kerjasama dan standarisasi perpustakaan dalam mendukung kecepatan akses informasi. Pustakawan UPT Perpustakaan UM. Di akses tanggal 29 juni 2014.
Townley. C.T. 1988. Human Relationships in Library Network Development. Library Professional Development.
Vigen, Jens. 2007. E-book and interlibrary loan:  an academic centric model for lending, url http://www.nla.gov.au/ilds/abstracts/VigenJ.pdf. Di akses tanggal 28 juni 2014

Widiasa, I M. 2004. Kinerja staf perpustakaan perguruan tinggi ditinjau dari tingkat pendidikan dan pengalaman kerja: survai di perpustakaan Universitas Udayana. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Senin, 12 Mei 2014

Article Critique Jurnal Internasional
A Library Network Model

A.     Pendahuluan
Artikel jurnal yang berjudul “A Library Network Model” adalah sebuah model jaringan perpustakaan, dari Journal of the American Society for Information Science yang di akses di e-resources perpustakaan nasional Proquest, yang ditulis oleh  William B Rouse. Jurnal ini menggunakan metodologi penelitian kuantitatif  yang berisi gambar-gambar dan juga tabel yang memuat data yang dihasilkan oleh si peneliti. Dan juga metodologi analitis karena peneliti ingin mengetahui komponen kinerja jaringan yang mencakup penundaan, kepuasan dan biaya. Ada dua pendekatan dasar yang dipakai untuk menganalisa kinerja jaringan: teori aliran jaringan dan jaringan antrian . Artikel Jurnal ini terbitkan pada Maret/April 1976 dengan volume 27, No. 2, rentang halaman 1-12. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada sebuah perpustakaan tentang membahas dua kelas yang cukup umum tentang kebijakan operasi jaringan: orang-orang yang menekankan minimalisasi penundaan dan orang-orang yang menekankan maksimalisasi probabilitas kepuasan. Jadi penelitian ini adalah sebuah model jaringan perpustakaan yang menekankan pada penundaan dan kepuasaan yang mencakup biaya yang dikeluarkan. Tujuan keseluruhan dari penelitian ini adalah untuk memberikan alat yang perencanaan jaringan perpustakaan dan manajer dapat mempekerjakan dan membantu memahami isu-isu kebijakan yang kompleks yang mendasari desain dan manajemen jaringan Perpustakaan. Jadi penelitian ini memilki beberapa poin yang dibahas seperti model sebuah jaringan perpustakaan, kebijakan operasi jaringan jaringan hipotesis serta analisis dan hasil.

B.   Rangkuman
Sebagai jumlah publikasi berkelanjutan meningkat, sementara anggaran perpustakaan menjadi korban inflasi dan jasa yang bersaing, berbagi sumber daya dan jaringan perpustakaan yang memasuki peningkatan perhatian. Kebanyakan pihak setuju bahwa informasi dan perpustakaan jaringan harus direncanakan dengan hati-hati. Perencanaan ini bisa mengambil banyak bentuk. Salah satu kemungkinan adalah untuk sekelompok orang untuk membahas isu-isu rasional dan mungkin mencapai konsensus pada desain dan operasi kebijakan jaringan perpustakaan. Namun, dalam situasi yang kompleks, tidak ada jaminan bahwa konsensus diskusi kelompok akan menghasilkan kebijakan yang terbaik.
Kemudian William B Rouse menggunakan metodologi analitis. Karena jaringan perpustakaan dapat menjadi sistem yang sangat kompleks sehingga untuk perencanaan diperlukan metodologi analitis. tahap pertama dalam mengembangkan metodologi analitis untuk perencanaan dan evaluasi jaringan perpustakaan adalah definisi ukuran kinerja. Hal ini diperlukan karena kebijakan hanya bisa menjadi yang terbaik, atau optimal, dengan memperhatikan beberapa kriteria. di publik pada sistem kuasi-publik seperti jaringan perpustakaan, kriteria atau mengukur kinerja harus layanan. Kebijakan adalah optimal jika, untuk suatu tingkat pengeluaran, layanan dimaksimalkan. Atau, kita bisa memperbaiki tingkat pelayanan dan meminimalkan biaya. Salah satu cara, hasil kebijakan yang optimal dalam biaya paling per unit layanan.
Definisi wajar layanan untuk jaringan perpustakaan harus mencakup dua variabel: probabilitas permintaan yang puas dan waktu tunda dalam menerima meminta informasi atau dokumen. Dengan demikian, tujuan dari jaringan seperti ini mungkin dinyatakan sebagai memaksimalkan peluang keberhasilan, meminimalkan penundaan, dan meminimalkan biaya. Sayangnya, biaya minimum tidak konsisten dengan keterlambatan minimum dan maksimum probabilitas keberhasilan. Oleh karena itu, penjualan klasik antara biaya dan layanan berkembang.
Sebaliknya, kita ingin mempertimbangkan bagaimana kita dapat memprediksi komponen kinerja jaringan: penundaan, kemungkinan kepuasan dan biaya. Jika kita dapat mengembangkan pendekatan untuk memprediksi kinerja, maka kita dapat mempertimbangkan optimasi dan pengorbanan yang dihasilkan. jika perpustakaan menerima permintaan tersebut memiliki sumber informasi yang diinginkan atau dokumen dan tersedia, maka akan dikirim melalui telefacsimile, shuttle, mail, dll untuk pemohon. Jika perpustakaan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut, baik pemohon akan diberitahu bahwa permintaannya tidak dapat diisi atau permintaan akan dirujuk ke perpustakaan lain dalam jaringan. Dan peneliti ingin mengetahui kinerja jaringan: penundaan, kepuasan dan biaya.
Ada dua pendekatan dasar yang dipakai peneliti untuk menganalisa kinerja jaringan: teori aliran jaringan dan jaringan antrian . Teori aliran jaringan masalah mengalokasikan arus di berbagai cabang jaringan sehingga memaksimalkan total aliran melalui jaringan. Atau teori aliran jaringan dapat digunakan untuk menemukan jalur terpendek melalui jaringan , di mana ukuran panjang waktu sebagai lawan jarak . Pendekatan ini untuk pemodelan pada awalnya dikembangkan untuk jaringan komunikasi tetapi telah diterapkan untuk jaringan perpustakaan di mana transfer pesan adalah operasi bunga. Bagaimana, teori aliran jaringan sulit untuk diterapkan untuk bekerja di mana arus yang probabilistik atau stokastik di alam . Dalam jaringan stokastik, antrian dapat membangun di berbagai tempat di jaringan dan dengan demikian waktu yang dibutuhkan untuk permintaan mengalir melalui jaringan menjadi jumlah dari waktu pelayanan pada setiap titik pengolahan dalam jaringan ditambah waktu yang dihabiskan menunggu dalam antrian .
Teori antrian klasik, dalam beberapa tahun terakhir, telah diperpanjang untuk mempertimbangkan antrian jaringan. Seperti dengan teori aliran jaringan , aplikasi awal adalah untuk sistem komunikasi. Namun, penekanan baru-baru ini telah di sistem komputer yang terbaru.
Sementara jaringan antrian tampil cukup berlaku untuk pemodelan sifat stokastik seperti perpustakaan, ada kesulitan teoritis yang signifikan dalam perhitungan analitis kinerja ( penundaan dan kepuasan ). Hal ini telah menyebabkan banyak peneliti untuk penggunaan simulasi komputer dan program-program seperti perangkat lunak GPSS, yang telah dikembangkan untuk jaringan stokastik. Dalam mencoba untuk mendapatkan hasil yang signifikan, simulasi mahal dan banyak peneliti telah menggunakan pendekatan yang memungkinkan perhitungan analisis kinerja jaringan. Sementara perkiraan tersebut biasanya membutuhkan simulasi untuk validasi, setelah itu tercapai, perkiraan analitis kemudian dapat digunakan dalam berbagai situasi yang mereka diuji . Dengan demikian, jaringan perpustakaan dimodelkan sebagai jaringan antrian.
Isu-isu kebijakan secara keseluruhan bergantung pada timbal balik antara layanan dan biaya dan antara dua ukuran layanan (probabilitas kepuasan dan rata-rata penundaan). Data kuantitatif akan mempertimbangkan pengorbanan ini dengan menganalisis sebuah hipotetis. Kami akan mempertimbangkan kebijakan yang berusaha untuk meminimalkan waktu pengiriman (disebut " waktu " kebijakan) dan kebijakan yang mencoba untuk memaksimalkan probabilitas kepuasan (disebut " kekuatan " kebijakan).
Analisis berikutnya dari jaringan hipotetis mempertimbangkan efek memiliki daftar serikat kepemilikan jaringan sehingga semua permintaan memasuki jaringan dengan nomor panggilan yang ditentukan. Dalam situasi seperti ini, semua permintaan untuk sumber daya yang dimiliki dan satu-satunya alasan untuk permintaan tidak terpenuhi adalah tidak tersedianya. Dengan demikian, kemungkinan sumber daya yang tersedia akan disesuaikan untuk mengkompensasi perbedaan dalam probabilitas sumber daya yang dimiliki dan probabilitas perpustakaan tentang kepuasan. seperti pada analisis pertama, menganggap bahwa waktu pemrosesan tidak dipengaruhi oleh tingkat permintaan. Dengan asumsi daftar serikat lengkap, dan bahwa semua permintaan yang untuk bahan yang terkandung dalam daftar ini, kita menemukan bahwa ukuran kinerja yang dihasilkan secara signifikan. dalam satu komponen: biaya. Dengan daftar serikat lengkap, tidak ada permintaan akan pernah "dicari", karena pusat akan tahu bahwa setiap permintaan yang dikirimkan ke sana adalah untuk sumber daya dimiliki oleh pusat. Dengan demikian, total biaya hanya biaya mengisi permintaan ($ 2,00) kali jumlah permintaan puas. dicatat bahwa penghematan biaya dapat berkisar hingga hampir $ 340.000 per tahun.
Analisis terakhir menyangkut efek antrian dalam jaringan. Sebagai ulasan, ide dasar dari antrian adalah sebagai berikut. Jika perpustakaan memiliki tingkat rata-rata tetap di mana ia dapat melayani permintaan (disebut tingkat layanan dengan dimensi permintaan per satuan waktu), maka, sebagai tingkat di mana permintaan meningkat tiba, antrean panjang akan membentuk dan total waktu rata-rata untuk permintaan untuk diproses (termasuk menunggu) akan meningkat. analisa ini dengan yang antrian telah melayani gambarkan bagaimana yang antrian dapat meningkat rata-rata penundaan dan atau memerlukan susunan kepegawaian ditingkatkan atau teknologi baru. kalau kita adalah untuk pulang dan mempertimbangkan lagi di antara jumlah permintaan memuaskan dan merata-ratakan penundaan, kita akan menemukan penyerahan itu akan menghasilkan pada penundaan peningkatan tidak hanya karena akibat jaringan dispersi kecuali juga karena akibat proses ditingkatkan isi pada masing-masing pusat.

C.       Kritik
Judul dari artikel jurnal ini adalah  “A Library Network Model” judul tersebut kurang menjelaskan isi dari keseluruhan jurnal dan terkesan menggantung. Karena terdapat judul yang sama dan judul ini adalah lanjutan dari penelitian selanjutnya jadi saya kurang memahami alur dalam penelitian ini .Lalu dalam judul ini tidak memuat tahun pada saat penelitian ini dilakukan.
Untuk penulis tidak dijelaskan di dalam artikel ini profilnya. Penulis bernama William B Rouse. Penelitian ini didukung oleh satu hibah dari illionis menyatakan perpustakaan pada illionis memprogram untuk judul dari perpustakaan pemerintah pusat layanan dan akta konstruksi. pengarang mengakui adanya komentar dan saran W. DeJohn dan H. Vrooman dari illionis menyatakan perpustakaan sepanjang proyek.
Sistematika penulisan telah tersusun dengan baik dan jelas mulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan catatan kaki, tetapi tidak terdapat kata kunci (keyword) dalam penelitian.Tata bahasa yang dipergunakan sulit dipahami.
Abstrak dalam penelitian ini mampu menggambarkan secara jelas mengenai masalah penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan. Namun masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini yaitu tidak tercantumnya kata kunci.
Konsistensi logis laporan penelitian ini telah mengikuti langkah-langkah yang seharusnya yaitu : dimulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Catatan kakinya juga banyak, penulis ini menggunakan banyak referensi dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya. Jadi kekurangan dari jurnal ini adalah tidak bisa mengetahui apa yang sudah di bahas dalam penelitian ini. Saya hanya bisa memahami apa yang ada di penelitian ini. Untuk isi dalam penelitian ini sudah sesuai dengan judul model jaringan perpustakaan yang mencakup penundaan dan kepuasan serta biaya yang dikeluarkan dari setiap jaringan perpustakaan.
Artikel ini membahas mengenai komponen kinerja jaringan yang mencakup penundaan, kepuasan dan biaya. Penulis memulainya dengan Dengan demikian, tujuan dari jaringan seperti ini mungkin dinyatakan sebagai memaksimalkan peluang keberhasilan, meminimalkan penundaan, dan meminimalkan biaya. Sayangnya, biaya minimum tidak konsisten dengan keterlambatan minimum dan maksimum probabilitas keberhasilan. Oleh karena itu, penjualan klasik antara biaya dan layanan mulai berkembang. Sebaliknya, kita ingin mempertimbangkan bagaimana kita dapat memprediksi komponen kinerja jaringan: penundaan, kepuasan dan biaya. Jika kita dapat mengembangkan pendekatan untuk memprediksi kinerja, maka kita dapat mempertimbangkan optimasi dan pengorbanan yang dihasilkan.
Kekuatan artikel ini juga dapat dipahami, yaitu bagaimana penulis mengolah berbagai pembahasan yang sudah dijelaskan dipenelitian sebelumnya, sehingga dalam penelitian ini dapat memahami tentang model jaringan perpustakaan yang mencakup penundaan dan kepuasan serta biaya yang dikeluarkan dari setiap jaringan perpustakaan. Tujuan dari dua bagian berikutnya adalah untuk menggambarkan efek dari beberapa isu kebijakan pada desain dan pengelolaan jaringan perpustakaan. Akan sulit untuk secara jelas menyajikan isu-isu ini dalam konteks sebuah analisi dari jaringan nyata. karena jaringan deskripsi, pengumpulan data dan agregasi data akan mendominasi diskusi. Dengan demikian, kita akan membahas isu-isu kebijakan dalam hal jaringan hipotetis agak mudah. Sebuah analisis skala penuh dari jaringan yang sebenarnya diharapkan akan menjadi topik tulisan lain dalam waktu dekat.
Kelemahan artikel ini ialah memiliki beberapa keterbatasan, yaitu jurnal ini adalah tidak bisa mengetahui apa yang sudah di bahas dalam penelitian ini. Saya hanya bisa memahami apa yang ada di penelitian ini. Analisis ini tidak menunjukkan bahwa tabungan mungkin membenarkan produksi daftar serikat kepemilikan jaringan. Sebagai oleh-produk, masing-masing perpustakaan individu dalam jaringan akan mendapat manfaat dari memiliki daftar kepemilikan sendiri untuk digunakan oleh pelanggan lokal, sekolah dan sejenisnya.

D. Kesimpulan
Dalam artikel ini, telah mengembangkan model umum untuk desain dan evaluasi jaringan perpustakaan. dengan model ini, telah membahas dua kelas yang cukup umum kebijakan operasi jaringan: orang-orang yang menekankan minimalisasi penundaan dan orang-orang yang menekankan maksimalisasi probabilitas kepuasan. kami telah menunjukkan bagaimana dispersi jaringan dan distribusi sumber daya mempengaruhi kelayakan dua kelas kebijakan ini. menggabungkan kendala biaya dan penilaian nilai mengenai menjualkan antara penundaan probabilitas kepuasan, dan sempat mempertimbangkan memilih kebijakan operasi jaringan tertentu.
Membahas daftar serikat jaringan dan lebih singkat otomatis sirkulasi dan jaringan yang dikendalikan oleh komputer. mempertimbangkan biaya dan manfaat dari setiap alternatif ini, daftar serikat jaringan mungkin menghasilkan penghematan substansial dalam biaya operasional tahunan dan dengan demikian membenarkan produksinya. sistem sirkulasi otomatis akan harus dibenarkan oleh manfaat bagi perpustakaan individual, karena manfaat ke jaringan akan tidak mungkin membenarkan investasi tersebut. Manfaat dari jaringan yang dikendalikan komputer banyak dan alternatif menarik ini sedang dipelajari.
Ketika peningkatan permintaan, antrian terbentuk. antrian tersebut terbukti secara substansial meningkatkan waktu pemrosesan seluruh jaringan. Peningkatan ini dalam waktu pengolahan merupakan salah satu biaya rujukan. itu mengakibatkan degradasi baik dalam pelayanan kepada pemohon atau biaya peningkatan staf untuk mempertahankan tingkat yang dapat diterima dari layanan.
Model yang dikembangkan di sini telah diprogram sebagai paket berjudul ILLNET interaktif, yang merupakan singkatan dari pinjaman dan informasi antar model jaringan. saat ini sedang diterapkan untuk analisis illinois perpustakaan dan informasi jaringan, yang juga berjudul ILLNET. pekerjaan di masa depan pada model ini dapat mencakup studi simulasi skala penuh, pertimbangan efek dinamis, optimasi dan mungkin aplikasi untuk analisis lokasi.
Tujuan keseluruhan dari penelitian ini adalah untuk memberikan alat yang perencanaan jaringan perpustakaan dan manajer dapat mempekerjakan untuk membantu memahami isu-isu kebijakan yang kompleks yang mendasari desain dan manajemen jaringan Perpustakaan. Dan hasil penelitian ini sesuai dengan pedahulan yang dijelaskan di awal artikel jurnal ini.